Memberi Diskon Bukanlah Bentuk Kemurahan Hati

Oleh Leenna Jayachaandran

(Catatan dari Mike: Leenna Jayachaandran adalah salah satu penulis tamu favorit saya untuk blog penjualan. Perhatikan bagaimana ia membuka tulisannya tentang diskon: “Itu adalah keraguan yang tampak nyata. Mengapa setiap kali Anda menurunkan harga, Anda tidak sedang menyelamatkan kesepakatan, melainkan sedang mengakui secara diam-diam bahwa Anda sendiri tidak memercayainya.” Sangat memikat. Silakan baca lebih lanjut dan pelajari bagaimana Anda dapat membimbing diri sendiri dan tim penjualan Anda agar tidak terjebak dalam kebiasaan memberi diskon!)

Ini Adalah Keraguan yang Tampak Nyata.

Mengapa setiap kali Anda menurunkan harga, Anda tidak sedang menyelamatkan kesepakatan, melainkan sedang mengakui secara diam-diam bahwa Anda sendiri tidak memercayainya.

Ada satu momen yang sangat dipahami oleh setiap tenaga penjual. Kesepakatan sudah di depan mata. Calon pembeli terdiam sejenak—sedikit terlalu lama—lalu mengucapkan enam kata yang telah mengacaukan lebih banyak target penjualan (pipeline) dibandingkan resesi ekonomi mana pun: "Bisa minta harga yang lebih bagus?"

Dan dalam jeda tersebut, dalam waktu setengah detik antara pertanyaan dan jawaban, terjadi sesuatu yang jarang kita bicarakan. Sebuah kalkulasi berjalan di kepala kita. Ini bukan tentang margin keuntungan, bukan juga tentang target penjualan (quota). Ini tentang kepercayaan diri. Ini tentang apakah kita benar-benar memercayai apa yang telah kita sampaikan selama enam minggu terakhir.

Saya telah berada di semua sisi dalam situasi ini. Saya pernah memimpin tim penjualan korporat (enterprise sales) di mana tekanan kuartalan begitu intens, hingga memberikan diskon terasa seperti oksigen—hal yang sangat penting, mendesak, dan hampir tidak perlu dipertanyakan. Saya pernah menjadi konsultan yang menyaksikan seorang founder (pendiri perusahaan) memangkas nilai kesepakatannya hingga 30% dalam satu percakapan saja kepada calon pembeli yang sebenarnya sudah berniat untuk tanda tangan kontrak. Dan saya pun pernah menjadi pembeli, menyaksikan seorang tenaga penjual langsung memberikan diskon hanya dalam waktu enam puluh detik setelah saya melayangkan sedikit keberatan, lalu saya berpikir: jika mereka menyerah secepat itu, lalu apa arti sebenarnya dari produk yang sedang saya beli ini?

"Saat Anda memberikan diskon tanpa alasan yang jelas, Anda tidak sedang menurunkan harga. Anda sedang menurunkan kredibilitas Anda sendiri dan merusak setiap percakapan di masa mendatang dengan calon pembeli tersebut."

Anatomi di Balik Keputusan Diskon

Inilah kesalahan sebagian besar pelatihan penjualan saat membahas tentang diskon: mereka membingkainya sebagai bagian dari taktik negosiasi. Sesuatu yang harus dikelola, dikendalikan, dan diterapkan secara strategis. Namun pada praktiknya, sebagian besar diskon sama sekali tidak strategis. Diskon justru bersifat emosional. Itu adalah hasil dari seorang sales rep yang merasa tidak yakin apakah nilai produknya telah dipahami dengan baik, lalu memutuskan bahwa harga adalah tuas paling aman untuk ditarik.

Saya pernah menyaksikan seorang sales rep senior di tim saya mendiskon kesepakatan senilai $180.000 sebesar 22% secara spontan—hanya karena calon pembeli "terdengar ragu-ragu saat bertelepon." Bukan karena calon pembeli memintanya. Bukan juga karena bagian pengadaan (procurement) menuntutnya. Hal itu terjadi murni karena si tenaga penjual merasa tidak nyaman dengan ketidakpastian dan memilih jalan keluar tercepat. Calon pembeli tersebut kemudian memberi tahu kami bahwa mereka sebenarnya sudah menganggarkan dana penuh untuk nilai awal. Uang sebesar $40.000 melayang begitu saja hanya karena satu orang salah mengira bahwa keheningan adalah sebuah penolakan.

  • 68% calon pembeli berharap untuk membayar harga penuh jika nilai produk diartikulasikan dengan jelas.

  • 3x lipat kemungkinan calon pembeli akan meminta diskon lagi di masa mendatang setelah diskon pertama dikabulkan.

  • 1 dari 4 kesepakatan yang gagal karena alasan "harga", sebenarnya gagal karena adanya celah nilai (value gap) yang belum terselesaikan.

Apa yang Sebenarnya Didengar oleh Calon Pembeli

Calon pembeli adalah pengamat yang sangat jeli terhadap perilaku tenaga penjual. Mereka mungkin tidak mengungkapkannya saat evaluasi, tetapi mereka menyerap setiap sinyal yang Anda kirimkan—dan tidak ada sinyal yang lebih nyaring daripada diskon yang diberikan tanpa diminta.

Coba pikirkan dari sisi lain meja. Jika seorang dokter bedah menawarkan untuk menurunkan biaya jasanya saat Anda terlihat ragu-ragu untuk melakukan prosedur operasi, Anda tidak akan merasa lega. Anda justru akan merasa cemas. Anda akan bertanya-tanya apa yang mereka ketahui namun tidak Anda ketahui. Psikologi yang sama berlaku dalam keputusan pembelian komersial, meskipun taruhannya terasa lebih rendah.

Ketika Anda memberikan diskon pada tanda-tanda penolakan pertama, calon pembeli tidak akan berpikir: Bagus, saya dapat penawaran menarik. Mereka akan berpikir: Ternyata produk ini sejak awal memang kemahalan. Apa lagi yang bisa dinegosiasikan? Dan seberapa jauh lagi saya bisa menekan harganya? Anda tidak sedang menutup percakapan—Anda justru sedang membuka babak baru percakapan yang jauh lebih buruk.

"Harga bukanlah masalahnya. Masalah utamanya adalah calon pembeli yang belum yakin. Dan calon pembeli yang belum yakin tidak bisa diselesaikan hanya dengan tabel perhitungan (spreadsheet)."

Ujian Kepercayaan Diri yang Tidak Pernah Anda Sadari

Inilah yang saya yakini setelah bertahun-tahun berada di berbagai lini penjualan—baik sebagai sales rep, pemimpin tim, founder, maupun sebagai pembeli: setiap permintaan diskon adalah ujian bagi keyakinan Anda, bukan ujian bagi fleksibilitas Anda.

Tenaga penjual terbaik yang pernah bekerja bersama saya memiliki satu kebiasaan yang sama. Ketika calon pembeli bertanya, "Bisa minta harga yang lebih bagus?", mereka akan menjeda percakapan, lalu melemparkan pertanyaan balik. Tidak secara agresif, tidak juga secara defensif. Melainkan secara analitis.

"Bantu saya memahami apa yang mendasarinya—apakah ini terkait ketersediaan anggaran, atau ada bagian dari nilai manfaat produk kami yang belum sepenuhnya kami jelaskan dengan baik?"

Satu pertanyaan itu mengubah segalanya. Pertanyaan tersebut memisahkan antara negosiasi harga dan negosiasi nilai. Itu memaksa percakapan kembali pada substansi utama. Dan sembilan dari sepuluh kasus menunjukkan bahwa jawaban dari calon pembeli sebenarnya bukan tentang uang, melainkan tentang permintaan kepastian. Mereka ingin merasa bahwa keputusan mereka sudah tepat, bukan sekadar murah.

Memberikan diskon adalah menjawab pertanyaan yang tidak diajukan oleh calon pembeli. Tenaga penjual yang hebat menjawab apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Kapan Diskon Benar-Benar Layak Diberikan?

Tulisan ini bukan argumen untuk menolak fleksibilitas komersial. Ada momen-momen sah di mana penyesuaian harga mencerminkan keputusan bisnis yang baik—misalnya karena perluasan ruang lingkup kerja (expanded scope), hubungan strategis, atau kendala anggaran yang nyata dalam skenario kerja sama pertama.

Namun, memberikan diskon dengan tujuan yang jelas, terikat pada alasan yang kuat, dan idealnya melibatkan pertukaran komitmen (give-and-take), adalah tindakan yang sama sekali berbeda dengan memberikan diskon karena rasa cemas.

Ujian yang selalu saya terapkan adalah: Jika saya menghapus diskon tersebut, apakah kesepakatan ini akan tetap bertahan berkat nilai manfaat yang telah saya bangun? Jika ya, pertahankan harga dan kuatkan keyakinan Anda. Jika tidak—maka itu bukan masalah harga. Itu adalah masalah cara Anda menjual. Dan tidak ada diskon di dunia ini yang dapat memperbaiki masalah mendasar dalam cara menjual secara permanen. Hal itu hanya akan menunda masalah tersebut sampai percakapan pembaruan kontrak (renewal) berikutnya.

Biaya Nyata dari Sebuah Diskon Tidak Pernah Tertera pada Faktur

Kita sering kali terobsesi dengan penurunan margin keuntungan, persentase angka, ambang batas persetujuan, dan dampak terhadap target kuartalan. Namun, setelah melihat begitu banyak kesepakatan korporat, penjualan yang dipimpin langsung oleh founder, hingga dari sudut pandang meja pembeli, saya meyakini bahwa biaya nyata dari pemberian diskon adalah sesuatu yang jauh lebih sulit diukur: yaitu terkikisnya cara pandang calon pembeli terhadap Anda secara perlahan.

Setiap kali Anda memotong harga tanpa adanya argumentasi yang kuat, Anda sedang mengajarkan sesuatu kepada calon pembeli. Anda mengajari mereka bahwa angka awal yang Anda berikan hanyalah sebuah sandiwara. Bahwa kepercayaan diri Anda hanyalah sebuah akting. Dan di lain waktu ketika mereka perlu mengambil keputusan, harga—bukan nilai manfaat—ialah tempat di mana percakapan itu berada.

Tenaga penjual dan organisasi yang saya amati berhasil membangun hubungan komersial yang langgeng dalam jangka panjang memiliki sebuah "sikap keras kepala" yang tenang mengenai hal ini. Mereka mempertahankan harga bukan karena kaku, melainkan karena menghormati nilai yang telah mereka bangun, menghargai apa yang layak didapatkan oleh calon pembeli, dan demi menjaga integritas dari percakapan bisnis yang sedang mereka jalani.

Menurut pandangan saya: Hal paling berani yang dapat Anda lakukan dalam sebuah kesepakatan adalah tidak memberikan diskon ketika semua insting Anda menyuruh Anda untuk melakukannya. Karena pada momen tersebut, Anda tidak hanya sedang melindungi margin keuntungan perusahaan. Anda sedang membuktikan kepada diri sendiri dan kepada calon pembeli bahwa Anda benar-benar memercayai apa yang Anda jual. Dan keyakinan itulah—jauh lebih kuat daripada lembar harga mana pun yang Anda buat—yang akan mengunci kesepakatan untuk jangka panjang.

Next
Next

Gunakan Perencanaan Strategi Key Account yang Terstruktur untuk Penjualan yang Lebih Luas, Lebih Tinggi, dan Lebih Mendalam