Perjalanan Kepemimpinan 50 Tahun di Asia – Bertumbuh Melalui Keberhasilan dan Kegagalan

Oleh Michael J. Griffin

Minggu ini, tepat 50 tahun yang lalu, saya memulai perjalanan kepemimpinan di Asia sebagai relawan US Peace Corps di Malaysia. Hingga hari ini, saya masih berada di Kuala Lumpur, terus menjalani perjalanan pertumbuhan kepemimpinan bersama para sahabat, rekan kerja, dan keluarga yang saya temui di sini.

Melalui tulisan ini, saya ingin membagikan wawasan, keberhasilan, serta kegagalan saya, dengan harapan Anda bisa memetik pelajaran berharga darinya.

  1. Kekuatan Karakter dan PotensiAlasan saya masih bertahan di Asia adalah karena kenangan indah bersama masyarakat Malaysia. Keramahtamahan, kehangatan, dan semangat mereka untuk terus belajar menginspirasi saya untuk mengambil risiko dan berkarier seumur hidup di Asia.

  2. Dua pemimpin pertama saya, Mok Sian Tuan dan Stephan Andel (pemimpin proyek perhutanan UNDP FAO), mengajarkan saya pentingnya menjaga integritas di tengah lingkungan yang penuh tantangan. Mereka merekrut saya karena melihat potensi dan memberi saya kesempatan untuk memimpin. Pelajaran: Saat merekrut, carilah potensi dan kemauan untuk belajar (teachability). Sebagai karyawan, bekerjalah hanya untuk manajer yang mau membimbing, mengembangkan, dan memiliki kemampuan coaching yang baik.

  3. Memahami Budaya dan Kerendahan Hati. Tahun 1994, buku “Riding the Waves of Culture” karya Fons Trompenaars dan Charles Hampden-Turner benar-benar membuka mata saya. Hal itu mengubah total cara saya memimpin tim di Asia maupun melakukan penjualan B2B di pasar Asia. Fons mengajarkan saya cara mendamaikan perbedaan budaya, yang membuat lingkaran pengaruh saya menjadi tempat yang lebih baik.

  4. Kepemimpinan adalah perjalanan untuk terus memupuk kerendahan hati. Saya mempelajarinya saat memimpin tim perhutanan di pedalaman Kelantan dan hutan rawa di Sumatera. Gaya kepemimpinan "suburban" saya tidak berguna di sana; saya justru belajar banyak dari para pekerja hutan yang dengan tulus membantu saya "bertahan hidup" di tengah rimba. Tetaplah rendah hati dan mau belajar di lingkungan baru agar Anda tumbuh menjadi pemimpin global yang adaptif.

  5. Belajar dari Kegagalan Finansial. Di pertengahan tahun 80-an, saya menjadi serakah dan bergabung dengan sebuah perusahaan hanya karena tergiur uang. Itu adalah kesalahan besar. Empat tahun kemudian, saya bangkrut. Namun, dari kegagalan ini saya belajar dua hal penting: Pertama, ambillah pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kekuatan Anda. Kedua, Fokuslah pada manajemen arus kas (cash flow). Bagi UKM, cash flow adalah segalanya (cash flow is king), bukan sekadar keuntungan di atas kertas. Kegagalan ini juga membuat saya lebih rendah hati dan menerima bantuan tulus dari rekan-rekan di Asia yang tetap setia mendampingi saya melewati masa krisis.

  6. Pentingnya Mentor dan Hubungan (Guanxi). Di setiap titik perubahan hidup, selalu ada sosok senior yang membimbing saya. Mulai dari direktur senior Esso Malaysia yang membantu saya memulai karier di bidang pelatihan, hingga para direktur global yang membuka pintu waralaba pelatihan di berbagai negara Asia. Temukanlah mentor dan pelatih yang bijak untuk membimbing Anda! .

    Dalam memimpin tim atau menjual produk di Asia, "Guanxi" dan hubungan personal adalah segalanya. Kalimat "Percayalah padaku, mari kita mulai kerja" seringkali tidak mempan di sini. Sebagai pemimpin atau tenaga penjual, Anda harus layak untuk dipercaya—bersabarlah dan selaraskan ucapan dengan tindakan saat membangun hubungan.

  7. Pelajaran Hidup: Pernikahan, Kesehatan, dan Jati Diri. Dalam urusan pribadi, saya belajar bahwa kasih sayang dalam pernikahan membutuhkan usaha dan sikap proaktif. Teruslah "berkencan" dengan pasangan Anda, jalin komunikasi yang aktif (bukan sekadar transaksional), dan terimalah kekurangan satu sama lain. Ingat, pasangan Anda bukanlah "proyek manajemen perubahan" Anda.

  8. Saya juga belajar bahwa kesehatan adalah aset utama. Banyak orang mengorbankan kesehatan demi mengejar kekayaan, lalu di usia tua menggunakan kekayaan untuk mengejar kesehatan. Pesannya jelas: jalani hidup sehat dan aktif agar bisa menikmati masa tua bersama cucu-cucu tercinta..

  9. Memahami profil perilaku (seperti DISC atau Gallup Strengths) dan memiliki Kecerdasan Emosional (EQ) yang baik akan membantu Anda menemukan jalur karier yang memuaskan dan mencegah kejenuhan (burnout).

  10. Warisan yang Anda Tinggalkan. Tim Elmore pernah mengajarkan saya tentang "Life Sentence" atau Kalimat Kehidupan—bahwa kita menulis kalimat kehidupan kita setiap hari. Jika Anda meninggal hari ini, siapa yang akan menangisi kepergian Anda? Siapa yang akan merasa kehilangan? Warisan (legacy) apa yang Anda tinggalkan dalam diri orang lain?. Semoga orang-orang dalam perjalanan hidup Anda bisa berkata: "Anda peduli pada saya, Anda membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik, terima kasih.".

Inilah 10 intisari dari 73 tahun perjalanan hidup saya, baik dari sisi keberhasilan maupun kegagalan. Saya berharap Anda bisa memetik pelajaran dari poin-poin ini untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan signifikan

Michael J Griffin
CEO and Founder of ELAvate
Thankful for a Great Life in Asia!
One Who Fails Forward

Next
Next

Tetapkan Tujuan Kepemimpinan Anda untuk Hidup yang Lebih Bermakna di Tahun 2026!