Meracik Kolaborasi: Bahan-Bahan untuk Membangun Kerja Tim yang Solid
Michael J. Griffin
Tidak ada manajer atau entrepreneur yang bisa menjalankan semuanya sendirian. Keberhasilan sebuah organisasi membutuhkan “bahan-bahan” berupa kerja tim yang sehat, saling percaya, serta individu-individu unik yang memiliki motivasi untuk berkontribusi.
Selama 40 tahun, saya belajar tentang kerja tim dari berbagai budaya, organisasi klien, dan begitu banyak orang berbakat dari lintas generasi. Di bawah ini saya membagikan sejumlah sumber daya atau “bahan” yang dapat Anda pelajari dan “campurkan” untuk meracik resep kerja tim Anda sendiri—resep yang dapat membuat hubungan dalam tim terasa lebih bermakna sekaligus menghasilkan kinerja yang lebih baik.
Bahan-bahan ini tidak saya susun berdasarkan tingkat prioritas. Anda mungkin akan menemukan beberapa yang terasa lebih “lezat” dan lebih relevan dibandingkan yang lain.
Tujuannya sederhana: buatlah rencana team building dan langkah-langkah aksi Anda sendiri untuk membangun tim yang sehat dan produktif.
Riding the Waves of Culture — Fons Trompenaars
Buku “Riding the Waves of Culture” membantu memperkuat kerja tim dengan membuat anggota tim memahami bahwa perbedaan maupun kesamaan di antara mereka sering kali berasal dari nilai-nilai budaya, bukan dari kekurangan pribadi.
Tujuh dimensi budaya yang dibahas dalam buku ini memberi tim bahasa yang sama untuk membicarakan perbedaan dalam hal aturan, komunikasi, pengambilan keputusan, ekspresi emosi, hingga cara memandang waktu. Pemahaman ini dapat mengurangi kesalahpahaman, membangun empati, dan mencegah munculnya stereotip.
Tim juga belajar bahwa nilai-nilai yang tampak bertentangan tidak selalu harus dipilih salah satunya. Keduanya dapat dipertemukan dengan cara yang lebih fleksibel dan adaptif, sambil tetap menghargai perspektif setiap orang. Hasilnya adalah kepercayaan yang lebih kuat, komunikasi yang lebih terbuka, penyelesaian konflik yang lebih konstruktif, serta kolaborasi yang menjadikan keberagaman budaya sebagai kekuatan.
Tujuan: Pelajari dan tinjau kembali tujuh dimensi budaya tersebut, lalu ajak tim berdiskusi mengenai bagaimana berbagai nilai yang berbeda dapat dipertemukan sehingga tim mampu membangun kesatuan di tengah keberagaman.
The 17 Indisputable Laws of Teamwork — John Maxwell
“The 17 Indisputable Laws of Teamwork” memperkuat pemahaman bahwa keberhasilan tim bergantung pada usaha bersama, bukan sekadar kecemerlangan individu.
Hukum seperti Law of the Big Picture, Law of the Niche, dan Law of Communication mendorong anggota tim untuk memiliki tujuan bersama, bekerja berdasarkan kekuatan masing-masing, dan menjaga komunikasi tetap terbuka. Sementara itu, Law of Mount Everest dan Law of the Bad Apple menekankan pentingnya kepemimpinan dan accountability.
Saya menemukan bahwa mendiskusikan hukum-hukum tersebut bersama tim, kemudian memilih sekitar 4–5 hukum untuk menjadi fokus dan diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari, merupakan cara yang sangat baik untuk mulai membangun motivasi dan mendorong anggota tim berpartisipasi dalam membentuk tim yang sehat dan agile.
Saya percaya Dr. Maxwell juga memiliki video YouTube mengenai hukum-hukum kerja tim ini.
Tujuan: Gunakan materi ini sebagai icebreaker untuk memusatkan perhatian tim sekaligus mendapatkan buy-in mereka untuk meningkatkan teamwork.
The Wisdom of Teams — Katzenbach & Smith
“The Wisdom of Teams” menunjukkan bahwa high performance lahir dari tim yang disiplin, bukan sekadar sekelompok orang yang bekerja bersama.
Buku ini membedakan antara real team dan working group. Sebuah tim, menurut definisi mereka, terdiri dari sejumlah kecil orang dengan keterampilan yang saling melengkapi, memiliki tujuan bersama yang bermakna, target kinerja yang spesifik, pendekatan atau proses kerja yang disepakati, serta kepercayaan dan accountability satu sama lain.
Para penulis menekankan pentingnya menetapkan tujuan yang jelas, membangun kapabilitas, dan merayakan keberhasilan-keberhasilan awal untuk menciptakan momentum. Dengan berfokus pada hasil, bukan sekadar melakukan team building demi team building itu sendiri, pemimpin dapat membangun komitmen, kepercayaan, dan kinerja kolektif yang berkelanjutan.
Tujuan: Gunakan definisi tim yang sangat kuat dari buku ini untuk membantu anggota tim memperjelas KPI, tujuan, atau seperti apa keberhasilan sebuah tugas.
“Team Answer and Question Guide” di bagian appendix juga merupakan alat yang sangat baik untuk membantu anggota tim memahami dinamika tim dan kepemimpinan.
Panduan tersebut bahkan dapat dikembangkan menjadi sebuah survei untuk diberikan kepada tim. Saya juga menggunakan insight dari buku ini untuk memulai dan melatih tim dalam hal Setting Goals dan Communicating Work Assignments.
Leading Teams — John Zenger dan rekan-rekan
“Leading Teams” memberikan pemimpin sebuah panduan praktis untuk memimpin tim yang produktif. Buku ini menekankan bahwa pemimpin tim perlu membangun tujuan yang kuat dan bermakna, menetapkan sasaran yang jelas, serta mendefinisikan peran dengan baik agar setiap anggota memahami kontribusinya.
Para penulis juga menyoroti tanggung jawab pemimpin dalam membangun kepercayaan, mendorong komunikasi terbuka, dan mengembangkan kapabilitas anggota tim.
Motivasi tumbuh ketika kontribusi diakui, hasil menjadi tanggung jawab bersama, dan orang diberi ruang untuk mengambil keputusan. Pemimpin didorong untuk lebih banyak melakukan coaching daripada controlling, menangani konflik secara konstruktif, serta terus mengevaluasi kinerja tim.
Pendekatan ini membantu menciptakan tim yang engaged, produktif, dan mampu mempertahankan komitmen terhadap hasil bersama.
Tujuan: Ringkas keterampilan dan proses yang perlu ditanamkan oleh seorang pemimpin berdasarkan buku ini.
Bab-bab dalam buku ini menjelaskan dengan sangat jelas keterampilan dan proses yang dibutuhkan untuk mengubah pola kepemimpinan tim yang top-down menjadi self-directed teams. AchieveGlobal dan perusahaan saya, ELAvate, telah mengembangkan modul berdurasi 1–2 jam berdasarkan buku ini.
The Five Dysfunctions of a Team — Patrick Lencioni
Berbeda dari buku-buku teamwork sebelumnya yang lebih banyak membahas hal-hal positif dan menggambarkan seperti apa tim yang efektif, “The Five Dysfunctions of a Team” berfokus pada diagnosis: mengapa sebuah tim bisa gagal.
Melalui sebuah leadership fable, Lencioni menggambarkan lima dysfunction dalam bentuk piramida: tidak adanya trust, fear of conflict, lack of commitment, avoidance of accountability, dan inattention to results.
Tanpa trust yang dibangun melalui vulnerability, anggota tim cenderung menyembunyikan kelemahan dan menghindari perdebatan yang sehat. Akibatnya, yang muncul adalah keharmonisan semu. Ketika commitment tidak jelas, tim menjadi ambigu. Ketika standar tidak ditegakkan, rasa frustrasi dan resentment berkembang.
Pada akhirnya, individu dapat lebih mementingkan status atau perlindungan diri dibandingkan tujuan bersama. Berbagai dysfunction ini mengikis moral tim, memperlambat pengambilan keputusan, dan melemahkan kinerja.
Karena itu, Lencioni mendorong pemimpin untuk membangun kembali trust sebagai fondasi utama.
Tujuan: Jika Anda merasa tim memiliki tingkat trust yang rendah dan hasil kerjanya tidak sesuai harapan, gunakan buku ini—atau “Overcoming the Five Dysfunctions of a Team Field Guide”—terlebih dahulu untuk diri Anda sendiri.
Lencioni menyediakan survei singkat pada halaman 116–117 yang dapat digunakan untuk menilai dysfunction dalam tim dengan meminta anggota tim memberikan penilaian mereka. Setelah itu, gunakan field guide tersebut untuk membangun trust, dan kombinasikan pendekatannya dengan buku-buku lain yang saya sebutkan di atas.
Gunakan TTISI DISC, Motivator, dan EQ Profiles
Menggunakan DISC, Driving Forces, dan Emotional Quotient (EQ) Profiles dari TTI Success Insights memberikan anggota tim bahasa yang objektif untuk memahami diri sendiri sekaligus memahami orang lain.
Ketika saya mengajarkan dan membahas profile-profile ini, anggota tim menjadi lebih sadar terhadap dirinya sendiri. Mereka mulai mampu mengenali dan menghargai orang yang berbeda dari dirinya, kemudian belajar menyesuaikan komunikasi agar dapat berkolaborasi dan membangun alignment dengan anggota tim lainnya.
DISC membantu menunjukkan gaya komunikasi dan perilaku alami seseorang, sehingga rekan kerja dapat lebih memahami dan menyesuaikan pendekatan mereka untuk mengurangi friction.
Driving Forces membantu mengungkap motivasi yang lebih dalam di balik keputusan seseorang. Ini menjelaskan mengapa orang dapat memiliki prioritas yang berbeda sekaligus membantu memperjelas sumber konflik.
EQ Profiles membangun self-awareness, empati, dan kemampuan mengelola emosi.
Ketiganya dapat menggantikan asumsi yang tidak berdasar dengan pemahaman yang lebih baik. Hasilnya adalah trust yang lebih kuat, dialog yang lebih terbuka, pembagian peran berdasarkan strengths, feedback yang lebih sesuai, serta penyelesaian konflik yang lebih konstruktif. Pada akhirnya, pendekatan ini dapat membantu mengurangi atau menghilangkan lima dysfunction yang mungkin muncul dalam sebuah tim.
Tujuan: Mulailah dengan DISC dan Driving Forces Profile. Lakukan sesi untuk membantu anggota tim memahami dan menginterpretasikan profile mereka. Sekitar tiga bulan kemudian, lakukan EQ atau Emotional Intelligence Profile. Ajarkan cara menginterpretasikan hasilnya dan hubungkan dengan dua profile sebelumnya.
Anda juga dapat menggunakan AI untuk menganalisis ketiga profile tersebut secara bersama-sama dan menghasilkan action plan personal untuk pengembangan diri, baik sebagai pemimpin maupun sebagai anggota tim.
Membangun Tim dari Sekadar Bekerja Bersama Menjadi High-Performance Team
Saya telah membuat berbagai custom team building workshops dan processes yang membantu kelompok berkembang dari tim dengan kinerja rata-rata menjadi high-performance teams, dengan menggunakan berbagai sumber daya yang saya bahas di atas.
Jika Anda ingin mendiskusikan bagaimana meningkatkan trust, relationships, dan collaboration dalam tim Anda, saya akan dengan senang hati berbicara dengan Anda.
“Teamwork Makes the Dream Work!”
Michael J. Griffin
CEO & Founder of ELAvate

