Bagaimana Pemerintah Singapura Mengajarkan Saya untuk Bersabar
Oleh Michael J Griffin
Judul yang menarik, bukan? Izinkan saya menjelaskan.
Selama 20 tahun, saya telah empat kali memperpanjang Permanent Residency (PR) Singapura/REP, dan setiap kali prosesnya selesai dalam waktu 3–5 hari sejak pengajuan. REP merupakan persetujuan dari pemerintah yang memungkinkan saya meninggalkan Singapura dan kembali lagi beberapa kali selama masa berlaku izin yang normalnya lima tahun.
Tahun ini, saya mengajukan perpanjangan pada 23 April, jauh sebelum REP saya berakhir pada 22 Juli. Setelah mengajukan permohonan REP yang baru, saya tentu berharap prosesnya akan kembali berjalan cepat.
Ternyata tidak.
Pada bulan Mei, saya mendapat status “pending”. Juni—masih pending. Juli—masih pending. Pada 22 Juli, REP saya resmi berakhir. Artinya, jika saya meninggalkan Singapura, saya bisa kehilangan status Permanent Resident yang sudah saya miliki selama 20 tahun.
Saya kemudian menggunakan AI untuk mencari tahu mengapa proses PR/REP saya tertahan. Saya mendapatkan beberapa kemungkinan alasan yang cukup menarik. Karena saya sudah melewati usia pensiun, besar kemungkinan pihak imigrasi menarik permohonan saya untuk menjalani audit secara manual. Mereka mungkin sedang memeriksa berbagai aspek kepatuhan dan kontribusi saya di Singapura, seperti pembayaran pajak, kontribusi CPF, apakah saya masih bekerja, kontribusi ekonomi saya kepada masyarakat, serta hubungan keluarga saya di Singapura.
Selama bulan Juli dan Agustus hingga awal September, orang tua ini harus belajar untuk… bersabar!
Ya, seorang entrepreneur yang selama ini dikenal dengan perilaku High D-nya, sikap can-do, sifat proaktif, dan ketidakmampuan untuk diam saja, kali ini harus… menunggu!
Pemerintah Singapura sedang mengajarkan saya tentang kesabaran yang positif.
Dampak pertama yang saya rasakan adalah hilangnya pendapatan training yang cukup signifikan karena saya sudah dijadwalkan untuk memberikan training di Malaysia dan Indonesia.
Namun, ada juga sisi positifnya. Saya memiliki lebih banyak waktu untuk membantu membesarkan cucu perempuan saya, membaca dan melakukan riset lebih banyak, serta menghabiskan lebih banyak waktu bersepeda untuk menjaga kebugaran.
Tetapi manfaat terbesar dari semua ini adalah saya belajar menjadi sabar secara positif: tidak mengeluh, tidak merasa kasihan pada diri sendiri.
Dan tentu saja, kesabaran saya akhirnya membuahkan hasil. PR/REP saya diberikan kembali untuk lima tahun berikutnya pada 5 September 2026.
Seberapa sabar Anda?
Mari kita melihat beberapa aspek tentang ketidaksabaran dan kesabaran.
Ketika seseorang tidak sabar, akibatnya bisa sangat buruk. Orang dengan karakter ekstrovert mungkin akan mudah meledak dalam kemarahan, merespons sebelum benar-benar mendengarkan, melontarkan kritik secara verbal, mengambil tindakan tanpa perencanaan yang matang, merusak hubungan, atau mengambil terlalu banyak tanggung jawab karena enggan mendelegasikan.
Sementara itu, orang introvert dapat menunjukkan ketidaksabaran dengan cara yang berbeda. Mereka mungkin memilih untuk diam, bersikap pasif-agresif, cepat menyetujui sesuatu hanya agar interaksi segera berakhir—“Ya, ya, terserah, yang penting jalan”—meskipun sebenarnya tidak setuju. Mereka juga mungkin memilih meninggalkan situasi secara diam-diam, misalnya keluar dari percakapan atau berhenti berbicara, daripada menghadapi keterlambatan secara langsung.
Keduanya bisa saja berakhir dengan mengeluh, menggerutu, atau menyalahkan orang lain.
Tidak satu pun dari respons tersebut akan membantu saya mendapatkan kembali PR/REP saya.
Menunggu proses PR/REP mengajarkan saya bahwa kesabaran yang disertai kegigihan dan pola pikir positif merupakan penawar yang tepat bagi saya untuk menjadi pemimpin yang lebih baik—dan tetap memiliki “tekanan darah yang sehat”—selama menunggu perpanjangan REP saya.
Berikut beberapa kutipan yang membantu saya. Bacalah dengan sabar dan renungkan maknanya.
Aristoteles
“Kesabaran memang pahit, tetapi buahnya manis.”
Benjamin Franklin
“Orang yang mampu bersabar dapat memperoleh apa yang diinginkannya.”
Ralph Waldo Emerson
“Ikutilah ritme alam; rahasianya adalah kesabaran.”
Edmund Burke
“Kesabaran kita akan menghasilkan lebih banyak daripada kekuatan kita.”
Joyce Meyer
“Kesabaran bukan sekadar kemampuan untuk menunggu—tetapi bagaimana kita bersikap selama menunggu.”
Leo Tolstoy
“Dua pejuang paling kuat adalah kesabaran dan waktu.”
Thomas à Kempis
“Semua orang memuji kesabaran, tetapi hanya sedikit yang bersedia mempraktikkannya.”
Bhagavad Gita
“Kesabaran adalah pendamping kebijaksanaan.”
Pepatah Tiongkok
“Satu momen kesabaran dapat mencegah bencana besar; satu momen ketidaksabaran dapat menghancurkan seluruh hidup.”
Amsal Salomo
“Orang yang sabar menunjukkan pengertian yang besar, sedangkan orang yang cepat marah menunjukkan kebodohan.”
“Orang yang mudah marah menimbulkan konflik, tetapi orang yang sabar meredakannya.”
“Menjadi sabar lebih baik daripada menjadi seorang pejuang; mengendalikan amarah lebih baik daripada menaklukkan sebuah kota.”
Pepatah Afrika
“Kesabaran dapat memasak batu.”
Pepatah yang ditemukan dalam berbagai tradisi Afrika Barat ini menekankan bahwa kesabaran mampu menghasilkan sesuatu yang tampaknya mustahil.
“Orang yang sabar dapat melihat bagian belakang seekor harimau, sementara orang yang terburu-buru akan digigit.”
Sekarang mari kita masuk ke bagian refleksi dan penerapan untuk meningkatkan kesabaran Anda. Saat membaca situasi-situasi berikut, cobalah renungkan bagaimana biasanya Anda meresponsnya.
Active Listening
Apakah Anda benar-benar mendengarkan, bahkan sampai mematikan HP? Apakah Anda mendengarkan untuk memahami, atau sebenarnya sedang menyusun bantahan dalam pikiran? Seberapa sering Anda memotong pembicaraan orang lain?
Coaching
Seberapa sabar Anda ketika membimbing seseorang yang baru belajar olahraga, keterampilan, atau sebuah proses? Apakah Anda mudah frustrasi ketika mereka belajar terlalu lambat? Apakah Anda menjadi terlalu memaksa?
Sales
Apakah Anda cukup sabar untuk tidak sekadar melakukan product push, tetapi memperlambat proses dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan kepedulian terhadap masalah dan emosi pelanggan sebelum menawarkan solusi?
Salesperson dengan tingkat kesabaran dan EQ yang tinggi cenderung lebih sukses dan menghasilkan lebih banyak daripada salesperson pada umumnya.
Timing
Seberapa sabar Anda menunggu waktu yang tepat untuk menjual, meyakinkan seseorang, atau menyampaikan informasi yang mungkin tidak menyenangkan?
Seberapa baik Anda menyesuaikan diri dengan timing pelanggan serta proses pengambilan keputusan mereka?
Assumptions and Judgements
Apakah Anda dibutakan oleh asumsi atau prasangka yang kemudian membawa Anda pada kesimpulan atau penilaian yang keliru terhadap orang yang berbeda dari Anda?
Family Members
Terkadang kita bisa menjadi “orang paling sabar” di tempat kerja, tetapi justru sangat tidak sabar ketika berada di rumah bersama keluarga.
Apakah Anda cukup sabar menghadapi anak-anak? Apakah Anda mampu mendengarkan pasangan tanpa langsung menyela atau melompat pada kesimpulan?
Yourself
Apakah Anda memberikan waktu untuk beristirahat dan memulihkan energi?
Bagaimana dengan bersabar terhadap diri sendiri dan tidak terlalu keras mengkritik diri sendiri?
Apa saja triggers yang biasanya membuat Anda kehilangan kesabaran?
Your Emotional Intelligence
Saya percaya, semakin matang kecerdasan emosional seseorang, semakin besar pula kemampuannya untuk bersabar.
Pernahkah Anda melakukan asesmen EQ terhadap diri sendiri untuk melihat bagaimana Anda mengelola emosi atau membaca situasi sosial agar dapat menjadi pribadi yang lebih sabar dan lebih kolaboratif?
Saya berharap refleksi ini dapat membantu Anda mengenali area dan situasi di mana Anda perlu menjadi lebih sabar.
Jika Anda ingin menilai EQ Anda sebagai “pengatur kesabaran” dalam diri Anda, silakan hubungi saya di bawah ini.
Saya dengan sabar menunggu untuk membantu Anda menjadi lebih sabar!
Michael J Griffin
CEO and Founder of ELAvate
TTISI EQ & DISC Assessor
Maxwell Leadership Coach
michael.griffin@elavateglobal.com
+65-91194008

